Bandung, 22 Agustus 2015
Teruntuk
Ibuku tersayang
Assalamu'alaikum
Hai, bu... apa kabarmu ? Bukan, bukan kabarmu hari ini. Tapi kabarmu waktu itu. Waktu dimana engkau menjalani detik-detik melahirkanku. Bagaimana perasaanmu waktu menunggu dokter mempersiapkan peralatan operasi. Ya, sudah jauh-jauh hari dokter memberitahukan bahwa engkau harus melahirkanku secara caesar, bukan ?
Hai, bu... bagaimana perasaanmu ? Saat engkau bertemu denganku untuk pertama kalinya. Melihat bayi yang engkau lahirkan ini sangat mungil. Berat badanku saat itu hanya 2,2 kg bukan ?
Ah, apa yang aku tanyakan ini. Pertanyaan yang seharusnya tidak aku tanyakan, karena jawabannya sudah pasti. Jawaban yang tergambar jelas saat dengan semangatnya kau menceritakan foto-foto saat aku bayi.
Hai, bu... mengapa engkau selalu mengingatku? Padahal aku terkadang melupakanmu saat sibuk dengan pekerjaanku. Aku yang memilih bersenang-senang dengan teman-temanku dan baru mendatangimu saat aku sedih karena mengalami masalah.
Hai, bu... siapakah yang ada dalam do'a mu ? Apakah itu aku ? Apakah setiap saat engkau mendo'a kan ku ?
Ah, pertanyaan-pertanyaan apa lagi itu. Maafkan aku bu. Seharusnya aku malu bertanya itu padamu, karena semuanya semakin memperjelas bahwa apa yang ku lakukan belum dapat membalas semua kasih sayang dan cinta mu.
Engkau menjadi yang pertama tersenyum melihatku saat aku bahagia, dan yang pertama bersedih saat melihatku menangis. Selalu mengingatku dan menyebut namaku di dalam do'a mu. Mengapa ? Karena aku adalah anakmu. Tak perduli apa yang harus dihadapi, engkau tetap melahirkanku. Bahagia memiliki aku. Bangga menatapku. Walau aku belum melakukan apapun untukmu.
Terima kasih ibu... aku bahagia menjadi anakmu. Sungguh bahagia.
Salam
Anakmu
Sabtu, 22 Agustus 2015
Selasa, 18 Agustus 2015
Saat Hujan Menyapa
Tulisan ini dikasih judul "Saat Hujan Menyapa".* Bukan sok puitis, tapi memang pas lagi nulis pas turun hujan. Yah, sesederhana itu (inspirasi bisa datang kapan dan dimana saja, bukan ? ). Tulisan (yang mungkin bisa disebut puisi) ini dibuat untuk hadiah perpisahan temen yang waktu itu resign dari tempat kerja.
Kenapa dikasih puisi ? Soalnya waktu itu kan lagi hujan, jadi ga bisa ke mall buat cari hadiah (hujan kembali jadi alasan). Kan bisa di online shop (kan hujan, jadi internetnya terganggu). Ah...alasan aja (bukan alasan, tapi kenyataannya memang hujan. Heheh).
Yah...sudahlah, kita langsung aja baca puisi nya ya ? Yang mau comment, silahkan. Tapi ingat, harus sopan dan tidak SARA yah... :)
*tulisannya di save dalam bentuk gambar
Kenapa dikasih puisi ? Soalnya waktu itu kan lagi hujan, jadi ga bisa ke mall buat cari hadiah (hujan kembali jadi alasan). Kan bisa di online shop (kan hujan, jadi internetnya terganggu). Ah...alasan aja (bukan alasan, tapi kenyataannya memang hujan. Heheh).
Yah...sudahlah, kita langsung aja baca puisi nya ya ? Yang mau comment, silahkan. Tapi ingat, harus sopan dan tidak SARA yah... :)
*tulisannya di save dalam bentuk gambar
Langganan:
Komentar (Atom)
